Informasi Terkininews.id — Pewarta: R. Prihatanto, S.Si
Sulawesi Tenggara — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, pesan moral dan keagamaan kembali mengingatkan manusia agar tidak larut dalam kesibukan duniawi. Ambisi, pekerjaan, dan berbagai urusan materi sering membuat seseorang lupa akan kehidupan yang jauh lebih panjang: kehidupan akhirat. Padahal, dalam ajaran Islam, memperbaiki urusan akhirat diyakini akan mendatangkan kemudahan dalam urusan dunia.
Pesan renungan yang beredar di tengah masyarakat hari ini menegaskan bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Keberhasilan sejati seorang Muslim adalah keberhasilan yang ia raih setelah kematian, ketika seluruh amal diperhitungkan.
Hidup Hanyalah Persinggahan
Dalam pesan tersebut dijelaskan bahwa manusia, betapa pun kuat dan sehat, pasti akan berhadapan dengan kematian. Hidup di dunia dianalogikan sebagai seorang musafir yang hanya beristirahat sebentar sebelum kembali melanjutkan perjalanan panjang.
Seseorang boleh bekerja keras, mengejar rezeki, dan memenuhi kebutuhan hidup, namun tidak boleh mengabaikan bekal akhirat. Pengingat ini menjadi penyeimbang agar manusia tidak terperangkap pada tipuan dunia.
“Jangan sampai kita lalai menghadapi datangnya kematian. Memperbanyak amal saleh sesuai kemampuan adalah bekal terbaik untuk kehidupan setelah mati,” demikian isi renungan tersebut.
Kebiasaan Menentukan Akhir Hidup
Dalam ajaran Islam, seseorang sering wafat dalam keadaan yang mencerminkan kebiasaan hidupnya. Jika kebiasaannya adalah ibadah, maka itulah yang akan menemaninya pada saat sakaratul maut. Begitu pula sebaliknya, kebiasaan buruk dapat menjadi sebab buruknya akhir kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya alam kubur adalah awal perjalanan akhirat. Barang siapa yang selamat di dalamnya, maka setelahnya akan lebih mudah baginya. Dan barang siapa yang tidak selamat, maka setelahnya akan lebih mengerikan baginya.”
(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Hakim)
Dasar Al-Qur’an: Manusia Dalam Kerugian
Firman Allah dalam Surah Al-‘Asr kembali menegur manusia:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Asr 1–3)
Ayat ini mengingatkan bahwa kesibukan dunia bukan alasan untuk meninggalkan amal saleh. Keimanan, amal, dan nasihat kebaikan adalah fondasi agar manusia tidak termasuk golongan yang merugi.
Allah juga berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 152:
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”
Kematian Tidak Mengenal Sehat atau Sakit
Renungan itu juga mengajak masyarakat merenungi fenomena hidup hari ini:
Banyak orang yang sehat meninggal secara tiba-tiba.
Banyak orang yang sakit justru diberi umur lebih panjang.
Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan ajalnya tiba.
Fenomena ini menjadi peringatan agar manusia tidak menunda-nunda kebaikan dan selalu siap menghadapi kematian kapan pun ia datang.
Memperbaiki Batin, Allah Memperbaiki Lahiriah
Pesan tersebut menekankan bahwa ketika seseorang memperbaiki batin, mendekatkan diri kepada Allah, dan menata hati, maka Allah akan membantu mengatur seluruh urusan dunia yang ia tinggalkan.
Prinsip yang disampaikan:
Jagalah pikiran, karena ia menjadi perkataan.
Jagalah perkataan, karena ia menjadi perbuatan.
Jagalah perbuatan, karena ia menjadi kebiasaan.
Jagalah kebiasaan, karena ia membentuk karakter.
Karakter inilah yang menentukan arah hidup seseorang—baik di dunia maupun di akhirat.
Penutup: Doa dan Harapan
Renungan tersebut ditutup dengan doa agar Allah menerima amal ibadah umat Muslim, mengampuni dosa-dosa, memberikan kesehatan, melapangkan rezeki yang berkah, serta menetapkan hati agar selalu dalam taufik dan hidayah-Nya.
Pesan spiritual ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak terjebak dalam kehidupan dunia secara berlebihan, serta tetap menata diri untuk perjalanan panjang setelah kematian.
Semoga menjadi nasihat bagi kita semua.
Aamiin Ya Rabbal Alamin.
