Ticker

6/recent/ticker-posts

Lima Tips “Candu Sholat”, Pesan Reflektif Rahmat Asyikin yang Menyentuh Kesadaran Umat

 


InformasiTerkiniNews.id —

Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, tekanan ekonomi, dan distraksi digital yang tak berkesudahan, kesadaran spiritual masyarakat kian diuji. Tak sedikit umat Islam yang mulai melalaikan sholat, bukan karena ingkar, melainkan karena hati yang perlahan menjauh dari makna hakiki ibadah.

Dalam konteks inilah, pesan reflektif yang disampaikan Rahmat Asyikin tentang “Lima Tips Candu Sholat” menjadi pengingat moral yang kuat, sederhana, namun menghunjam langsung ke relung kesadaran manusia. Pesan ini bukan sekadar nasihat, melainkan tamparan lembut agar manusia kembali menempatkan sholat sebagai kebutuhan jiwa, bukan sekadar kewajiban ritual.

Kesadaran akan Kematian: Awal dari Kejujuran Diri

Tip pertama menekankan kesadaran fundamental bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menempati kuburan. Sebuah kebenaran yang tak terbantahkan, namun sering dihindari untuk direnungkan. Kesadaran akan kematian menjadi titik awal kejujuran manusia terhadap dirinya sendiri: bahwa dunia bersifat sementara, sementara akhirat adalah kepastian.

Refleksi ini menempatkan sholat sebagai bekal utama, bukan aksesori kehidupan.

Usia yang Tak Lagi Muda, Waktu yang Tak Bisa Diulang

Tip kedua mengajak manusia bercermin pada usia. Waktu terus berjalan, tenaga berkurang, dan kesempatan hidup menyempit. Menunda sholat dengan alasan kesibukan sejatinya adalah ilusi, karena waktu tak pernah menunggu kesiapan manusia.

Pesan ini menegaskan bahwa menunda taat sama dengan menyia-nyiakan kesempatan memperbaiki diri.

Nikmat yang Melimpah, Namun Sering Diingkari

Pada tip ketiga, Rahmat Asyikin mengingatkan ironi kehidupan: Allah telah memberikan begitu banyak nikmat, namun manusia kerap membalasnya dengan kelalaian dan kekufuran dalam bentuk mengabaikan sholat.

Sholat diposisikan sebagai wujud rasa syukur paling mendasar. Tanpa sholat, nikmat berubah menjadi pengingkaran yang halus namun berbahaya.

Sholat sebagai Prioritas, Surga sebagai Tujuan

Tip keempat menegaskan hierarki hidup yang sering terbalik. Sholat seharusnya menjadi prioritas utama, bukan sisa waktu. Pesan ini menampar logika duniawi: kitalah yang membutuhkan surga Allah, bukan sebaliknya.

Sholat bukan beban, melainkan jalan keselamatan.

Sholat untuk Mereka yang Merasa Paling Buruk

Tip kelima menjadi penutup yang paling menyentuh. Seburuk apa pun keadaan seseorang, sholat jangan ditinggalkan. Justru melalui sholatlah Allah memperbaiki hidup manusia, pelan namun pasti.

Pesan ini mematahkan stigma bahwa sholat hanya untuk mereka yang sudah “baik”. Sebaliknya, sholat adalah pintu perbaikan bagi siapa pun yang ingin kembali.

Pesan Moral yang Relevan untuk Semua Lapisan

Lima tips “Candu Sholat” ini relevan bagi siapa saja: tua, muda, sibuk, bahkan mereka yang merasa jauh dari agama. Narasi ini mengajak umat Islam untuk tidak menunggu sempurna dalam beribadah, karena kesempurnaan justru lahir dari konsistensi sholat itu sendiri.


Di tengah krisis moral dan spiritual, pesan sederhana namun mendalam seperti ini layak disebarluaskan sebagai pengingat bersama bahwa sholat bukan hanya kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa yang menenangkan dan menyelamatkan.

Pewarta:

R. Prihatanto, S.Si